KHUTBAH IDUL ADHA 1441 H Oleh : H. ALI MAZI, SH (GUBERNUR SULAWESI TENGGARA)

KHUTBAH IDUL ADHA 1441 H
Oleh :
H. ALI MAZI, SH
(GUBERNUR SULAWESI TENGGARA)

MAKNA IBADAH QURBAN DALAM MENGHADAPI PENDEMI COVID-19

Jama'ah Shalat 'Id yang dirahmati Allah,

Puji dan syukur marilah dengan tiada hentinya kita persembahkan kehadirat Allah SWT, karena atas curahan ramhat dan nikmat-Nya, di pagi hari ini kita dapat bersama-sama mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid yang membangkitkan kesadaran, akan kebesaran Allah Subhanahu Wata’ala. Di rumah Allah yang mulia ini, kita juga bersama sama melaksanakan shalat Idul Adha dan insya Allah akan dilanjutkan dengan penunaian ibadah qurban sebagai salah satu bentuk ketaatan terhadap perintah Allah.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya, serta kepada segenap pengikutnya hingga akhir zaman.

Selanjutnya saya mengajak kita semua, marilah dengan sepenuh hati dan jiwa, kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Karena hanya dengan ketakwaan, hidup manusia yang lemah dan hina, menjadi mulia disisi Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. (QS. Al Hujurat, ayat 13)

Jama‟ah Shalat „Id yang dimuliakan Allah,

Hari ini, ummat muslim di seluruh penjuru dunia merayakan Idul Adha, atau hari raya qurban untuk mengingatkan kita semua dan seluruh umat muslim dimanapun berada, pada sebuah peristiwa sakral dan agung yang menjadi bukti betapa besarnya ketaatan, keteguhan iman, dan kecintaan Nabi Ibrahim Alaihissalam dan putranya Ismail, kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim Alaihissalam menerima wahyu melalui mimpi berupa perintah untuk mengurbankan anaknya Ismail. Nabi Ibrahim merenung, karena tentu perintah ini bertentangan dengan logika dan akal sehatnya, bagaimana mungkin seorang ayah diperintahkan untuk mengurbankan anak yang sangat ia sayangi. Namun tatkala mimpi itu datang tiga kali secara berturut-turut, maka Nabi Ibrahim Alaihissalam meyakini bahwa mimpi itu adalah benar-benar perintah dan wahyu dari Allah Subhanu Wata’ala, yang harus dilaksanakan dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan. Peristiwa yang tiada bandingannya, dalam sejarah umat manusia itu menjadi awal mula syari’at ibadah qurban serta diabadikan dalam Al Qur’an sebagaimana firman-Nya:

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!"

Dengan ketulusan hatinya, Ismail memberi tanggapan dan berkata;

"Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Asshaffat, Ayat 102)

Kaum muslimin dan muslimat, Jama‟ah Shalat „Id, yang dimuliakan Allah,

Qurban secara bahasa berarti “dekat” dalam kata lain qurban berarti mendekatkan diri kepada Allah melalui ritual penyembelihan hewan ternak. Agama sangat menganjurkan ibadah qurban bagi orang yang mampu secara materi, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah: ''Barang siapa memiliki kelapangan harta, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami.''

Dalam peristiwa qurban, Nabi Ibrahim melepaskan sifat egonya, karena disadari bahwa sifat ego selalu cenderung mengutamakan kepentingan pribadi. Dengan menyembelih hewan qurban sesungguhnya kita dididik untuk selalu mengedepankan kemaslahatan bersama serta memiliki jiwa dan semangat berqurban dalam setiap amal perbuatan
kita. Ibadah qurban yang wujudnya berupa hewan ternak hanyalah bersifat simbolik yang menjadi isyarat bahwa sifat-sifat kebinatangan harus dihilangkan dan tidak boleh melekat dalam setiap jati diri manusia.

Hal yang terpenting dalam ibadah qurban adalah bagaimana ibadah qurban itu menjadi titik awal kesadaran seseorang untuk menjadi manusia yang sepanjang perjalanan hidupnya mau berkorban untuk kepentingan dan kemashlahatan bersama. Menumbuh kembangkan spirit pengorbanan merupakan bagian mendasar dalam membentuk karakter masyarakat beradab yang memiliki kepekaan sosial, serta mampu mengalahkan egonya sendiri. Sayangnya, masih banyak kita saksikan dewasa ini sifat egois yang hanya menanti pengorbanan orang lain. Egoisme bermula dari ketidak pedulian terhadap sesama, selanjutnya demi kepentingan pribadi dan sesaat, seseorang tidak ragu lagi melakukan kedustaan dan kezaliman terhadap orang lain.


Ismail hanyalah sebuah simbol dari atribut keduniaan yang kita miliki dan kita cintai. Kalau Ismailnya Nabi Ibrahim adalah putranya sendiri, lantas siapa Ismail kita? Bisa jadi diri kita sendiri, kedudukan dan kekuasaan, keluarga kita, anak dan istri kita, dan harta yang kita miliki. Semua yang kita miliki itulah merupakan ujian keimanan dan ketaatan dalam menunaikan perintah Allah. Apapun yang kita cintai, qurbankanlah manakala Allah menghendakinya. Tentu, negeri ini sangat membutuhkan hadirnya sosok Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan orang banyak meskipun harus mengorbankan apa yang dicintainya.

Falsafah kepemimpinan Butuni telah dengan tegas mewariskan arti pengorbanan :
 Yinda yindamo arataa somanamo karo,
 Yinda yindamo karo somanamo lipu,
 Yinda yindamo lipu somanamo sara,
 Yinda yindamo sara somanamo agama,

 Korbankan harta demi diri
 Korbankan diri demi negri
 Korbankan negri demi pemerintahan
 Korbankan pemerintahan demi agama

Kaum muslimin dan muslimat, Jama‟ah Shalat „Ied yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan yang mulia ini, selaku umara atau Pemimpin Daerah saya mengajak kita sekalian untuk terus bergerak, berbuat dan berkorban tidak hanya untuk kepentingan pribadi, kelompok atau golongan tetapi juga untuk kepentingan dan kemaslahatan bangsa dan negara, khususnya daerah Sulawesi Tenggara yang kita cintai bersama.

Selengkapnya di https://drive.google.com/file/d/1zSm2Cbpmd2RyQ1XmzbWEiitIAreokoiF/view?usp=sharing