Img PARIPURNA HUT SULTRA KE 55 WUJUDKAN AMAN , MAJU SEJAHTERAH

PARIPURNA HUT SULTRA KE 55 WUJUDKAN AMAN , MAJU SEJAHTERAH

Kendari, Bertepatan 21 sy'aban 1440 Hijriah atau 26 April 2019, DPRD prvovnsi Sulaesi Tenggara (sutra) menggelar Sidang pripurna dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Sultra ke-55 di gedung Paripurna DPRD Sultra.

paripurna ini dihadiri Gubernur Sultra, Ali Mazi, Frokompinda, kepala daerah dari 17 Kabupaten/kota, kepala OPD Lingkup Sultra, Abdurrahman Shaleh yang didmpingi ketua DPRD Jumarding. dalam sambutnnya, Abdurrahman menyampaikan kehadiran semua pihak dalam acara tersebut adalah untuk mengikutirutinitas peringatan semua sejarah.

"Dimana dalam setiap bulan april kita memiliki kalender lokal tahunan untuk menyelenggarakan Rapat Paripurna DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara. Peringatan sehai sebelum acara puncak sudah merupakan acara rutin yang telah kita selaggarakan setia tahun, "katanya jum'at (22/04/2019).

Rapat Paripurna DPRD dimaksudkan untuk memberi pelibatan forml antara rakyat yang terwakilkan dalam parlemen dengan emerintah daerah sebagai peaksana mandat pembangunan daerah. Proses seperti ini membawapesan sebagai peringatan detik-detik terbentuknya Sulawesi Tenggara yang kemudian dilaksanakan pada 27 April 2019. Karena itu, peringatan ini menjadi simbol aktualitas atas penghormatang lahirnya sejarah daerah yang menentukan peradaban pembangunan Sultra sejak ditetapkan hingga ahun-tahun sepanjang masa.

27 April ditetapkan sebagai Hari Jadi Provinsi Sulawesu Tenggara tersebut berkaitan dengan diangkatnya J. Wayong sebagai Pejabat Gubernur Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara, setelah sebelumnya, Sulra masih menjadi bagaian dari Povinsi Sulawesi Selatan-Tenggara.
"tanggal 27 April tentu hanya sekelumit sejarah yang tercatat. Namun, jauh sebelum itu, daerah ujung Sulawesi ini memiliki catatan historis yang panjang sejak zaman kerajaan, zaman Hindia Belanda, zaman perjuangan kemerdekaan hingga zaman penataan pemerintahan sjak Indonesia merdeka tahun 1945 silm," urai pria yang dikenal dengan sapaan akronim ARS ini.

pada masa akhir pemerintahan Hinda Belanda, beberapa daerah dalam provinsi ini pernah dalam provinsi ini pernah daerah dalam pemerintahan Afdeling Buton-Laiwoi yang berkedudukan di Buton. Pada Tahun 1951-1952 Afdeling Buton-Laiwoi yang berkedudukan di Buton bermetamorfosa menjadi "Daerah" Sulawesi Tenggara yag kemudin menjadi Daerah Swantantra setingkat Kabupaten yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri.

selanjutnya, pada tahun 1961 "Daerah" Sulawesi Tenggara menjadi bagaian dari Provinsi Sulawesi Tenggara terbentuk dengan nama provinsi Sukawesi Selatan-Tenggara dan pada tahun 1964, sesuai Perppu Nomor 2 tahun 1964 yang dikuatkan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 Daerah Sulawesi Tenggara terbentuk dengan nama Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara.

Rentetan sejarahnya yang unik dan panjang, serta peran tokoh-tokoh daerah yang hebat untuk memperjungkan berdirinya satu provinsi di Jazirah pulau Sulawesi itulah, maka tanggungjawab sejarah terebentuknya menjadi bagian inheren yang senantiasa tumbuh dan melekat sebagai identitas pewarisan nilai sejarah dari generasi hingga ke generasi berikutnya.

Peringatan ini juga menjadi ikhlas balik bagi kia generasi pelanjut yag akan menentukan kesinambungan daerah kemudian hari sebagaimana yang menjadi cita-cit luhur para tokoh pendiri daerah,"ungkapnya.

Dengan demikian, maka peringatan dan atau pryaan dalam angka Hari Ulang Tahun Provinsi Sulawesi Tenggara sekaligus menjadi amanah sejarah yang akan terus dijaga dengan baik. Dalam kontes itu, maka generasi penerus menjadi peting karena merekalah pembangunan daerah akan diisi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat di Sultra, bangsa dan negara ang tercinta ini.

Salah satu penalaran yang mendasar dari setiap moment peringatan HUT Sultra adalah, menjadikan moment sejarah itu sebagai landasan historis bagi uapaya membangun peradaban daerah. Landasan sejarah harus menjiwai perjalanan generasi guna memetik manfaat pada aspek pengorbanan untuk kepentingan kepentingan umum, Landasan sejarah juga harus menjadi sumber nilai bagi upaya menghadirkan citapembangunan untuk mengantarkan masyarakat ke kehidupan yang lebih banyak dan manusiawi. Dengan demkian, sejarah akan memberi bobot secara non material tetapi menjadi roh penggerak sekaligus akal penghubung sebagai semangat peaksanaan pembangunan daerah dalam kerangka menghadirkan pelayanan prima bagi masyarakat srta pembagian pembangnan yan merata.

Pada 2019 ini telah memasuki arena tahun polotik yang sungguh luar biasa bagi peerjalanan demokasi di negara ini. Beberapa hari yang lalu telah dilaksanakan agenda hak demokrasi warga negara beerupa pemilihan Langsung Calon Presiden / Wakil Presiden serta pemilihan langsung calon anggota Legislatif yang dihelat secara bersamaan."kita telah memberikan hak suara kepada calon-calon kita yang akan terpilih melaksanakan agenda negara dan daerah. Kita percayakan, bahwa hak pilih rakyat apapun hasilnya***Ewit Diskominfo.

Komentar