Img Penduduk Miskin di Sultra Turun 0,84 Poin

Penduduk Miskin di Sultra Turun 0,84 Poin

SULTRA – Jumlah penduduk miskin di Sulawesi Tenggara (Sultra) pada September 2017 mengalami penurunan sebesar 0,84 poin. Sultra termasuk provinsi dengan presentase tingkat penurunan penduduk miskin terbesar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra jumlah presentase penduduk miskin pada Maret 2017 sebesar 12,81 persen (331,71 ribu orang) turun 0,84 poin (18,55 ribu orang) menjadi 11,97 persen (313,16 ribu orang) pada September 2017.

Kepala BPS Sultra Atqo Mardiyanto mengatakan BPS melakukan survei perkembangan penduduk miskin sebanyak dua kali dalam setahun yaitu pada Maret dan September.

Dia menyebutkan pada September 2017 jumlah penduduk miskin di Sultra sebanyak 313,16 ribu orang. Penduduk miskin tersebut tinggal tersebar di daerah perkotaan 67,96 ribu orang, dan di daerah pedesaan 245,19 ribu orang.

“Boleh dikatakan orang miskin di Sultra sebagian besar berada di daerah pedesaan. Kebanyakan di sektor pertanian baik itu tanaman pangan, perkebunan, dan lainnya,” ujar Atqo di Kantor BPS Sultra, Kamis (4/1/2018).

Selain itu, di Sultra angka garis kemiskinan mengalami peningkatan. Sebutnya, angka garis kemiskinan pada Maret 2017 senilai Rp285.609 per kapita/bulan, naik menjadi Rp300.256 per kapita/bulan pada September 2017. Secara presentase terjadi kenaikan sebesar 5,12 persen.

Menurutnya, meskipun angka garis kemiskinan mengalami kenaikan tetapi jumlah penduduk miskin tetap turun. Itu artinya, kesejahteraan relatif menjadi lebih baik.

“Mestinya kan kalau garis kemiskinan naik, penduduk miskin juga nambah. Tapi ini penduduk miskinnya malah turun,” kata dia.

Menariknya, penduduk miskin di Sultra mengalami penurunan, tetapi selama periode Maret-September 2017 penduduk miskin di perkotaan bertambah sebanyak 5,21 ribu orang. Sementara di daerah pedesaan selama periode tersebut malah berkurang 23,77 ribu orang.

Kata Atqo banyak hal yang menjadi penyebabnya, salah satunya adalah pertambahan penduduk di perkotaan jauh lebih cepat dibanding di pedesaan. Kemungkinan lainnya, terjadi perpindahan penduduk dari desa ke kota, namun penduduk yang pindah lebih banyak penduduk miskin.

“Jadi, penduduk miskin dari desa pindah ke kota tambah miskin lagi,” tambahnya.

Perlu diketahui bahwa komponen yang memberikan pengaruh terbesar pada garis kemiskinan adalah beras dan rokok. Di pedesaan, beras menyumbang 23 persen dan rokok 12 persen pada garis kemiskinan. Olehnya itu, untuk menyelesaikan permasalahan kemiskinan harus dilakukan di pedesaan.

Komentar