Img Stok Melimpah, Sultra Tak Butuh Beras Impor

Stok Melimpah, Sultra Tak Butuh Beras Impor

SULTRA– Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita) 
Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menyatakan menolak kebijakan 
pemerintah pusat untuk melakukan impor 500.000 ton beras pada awal tahun
 2018 ini.

Koordinator Wilayah (Korwil) Gempita Sultra Rustam mengatakan, 
Februari dan Maret 2018 memasuki musim panen padi di daerah-daerah 
sentra produksi di Indonesia, termasuk sejumlah wilayah di Sultra. 
Sehingga dapat dipastikan Indonesia akan sulprus beras.

“Untuk di Sultra stok beras sebetulnya cukup tersedia. Karena itu 
kita tidak butuh impor beras. Toh juga, kita bisa memanfaatkan potensi 
pertanian dan perkebunan dengan melakukan diversifikasi pangan yang 
selama ini dilakukan masyarakat,” kata Rustam di Kendari, Rabu 
(24/1/2018).

Lebih lanjut Rustam mengatakan, petani di Sultra telah panen padi 
ribuan hektar sejak Desember 2017 hingga saat ini yang tersebar 
disejumlah daerah, seperti Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka 
Timur.

“Jadi sangat aneh kalau Sultra kekurangan beras. Hanya saja kami akui
 ada kenaikan beras di tingkat pedagang. Setelah kami telusuri, 
penyebabnya adalah banyak pembeli atau tengkulak dari Jawa yang datang 
membeli gabah di sentra beras meskipun harganya lebih tinggi dari 
pedagang lokal,” ujarnya.

“Bahkan para tengkulak ini melakukan pembelian dengan sistim ijon 
yang tentu saja merugikan petani. Inilah yang menyebabkan kelangkaan 
gabah di daerah ini,” katanya.

Ia meminta pemerintah melalui Kementrian terkait dari pusat sampai ke
 daerah-daerah untuk mengakurasi data stok dan potensi beras Indonesia 
menyambut musim panen Februari dan Maret mendatang.

Seharusnya, lanjut dia, Indonesia yang subur tanahnya tidak boleh 
kekurangan stok beras karena sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo, 
telah digalakan perluasan areal tanam melalui pencetakan sawah baru.

“Kementerian Pertanian telah melakukan percetakan jutaan hektar sawah
 baru dan perbaikan sistim irigasi guna menjamin ketersediaan pengairan.
 Pertanyaannya,kemana beras kita yang telah dipanen. Di Sultra, BPTP 
setiap hari melakukan panen, jadi aneh kalau kita harus impor beras,” 
ucap Rustam.

Kebijakan impor beras, kata Rustam, benar-benar telah melukai hati 
petani. Aksi penolakan impor beras terjadi di mana-mana, menjadi bukti 
bahwa stok beras sebetulnya cukup tersedia.

Ia menilai, keputusan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk 
melakukan impor beras terlalu bernafsu dan terkesan terburu-buru tanpa 
melakukan kajian dan validasi data stok beras di lapangan.

Sementara itu, pihak Bulog sendiri masih memiliki ketersediaan stok 
beras yang dapat memenuhi permintaan kebutuhan hingga enam bulan atau 
lebih ke depan. (B)



Komentar